Terbuka Dinasihati

. Hits: 1

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 28 Juni 2026 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Apakah kita percaya Tuhan ajaib? Tuhan ajaib. Kalau masih bisa ditelaah, masuk diakal, itu bukan keajaiban. Ketika Tuhan jawab doa kita, kadangkala kita terjebak pada sistem dan metode. Kalau yang namanya Tuhan memberkati, Tuhan berkati dengan duit makin banyak, bukan. Ingat, Tuhan tetap sumber, Dia bukan sistem. Tuhan terlalu ajaib kalau hanya dibatasi dengan sistem, karena Dialah sumbernya--sumber dari kehidupan, dari segala hukum alam, dari waktu dan ruang hidup kita.

Nasihat dan pemulihan....

Amsal 12:15 - Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak. Amsal 13:10 - Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat. Kalau Tuhan menasihati, rasanya Dia di pihak yang paling benar dan selalu mau menyalah-nyalahkan kita, tidak. Tuhan ingin ketika kita mau dengar nasihat-Nya, kita akan memperoleh hikmat. Suara hikmat: Amsal 8:1, hikmat dari Tuhan sedang berseru-seru, sudah ada di pintu gerbang, di tembok-tembok kita. Selama ini kita usaha ini itu gerbangnya seperti tertutup, tapi percayalah sudah ada hikmat Tuhan di sana menyongsong kita.

Bicara tentang hikmat, hikmat bukan hanya sekadar bicara kepandaian. Hikmat adalah satu Pribadi--Sang Ajaib, Penasihat, Sang Hikmat. Allah adalah Sang Hikmat. Di tengah “kebutuhan” hidup kita, kita ijinkan Tuhan Yesus hadir dalam hidup kita, kita tidak terjebak pada “kebu... dan hidup”. Ketika kita letakkan Tuhan di tengah, Tuhan jadi sumber utama di hidup kita. Amsal 8:14 - Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan. Semakin kita terima Tuhan--Sang Hikmat hadir dalam hidupmu, semakin engkau punya pertimbangan--bisa menimbang melampaui akal,  punya pengertian, kekuatan. Itu sebabnya dengar nasihat, dengar firman Allah. Jangan abaikan.

Terbuka dinasihati. Perumpamaan pohon ara Markus 11:12-14. Ayat 12, Yesus punya kebiasaan setelah pelayanan di Yerusalem selalu pulang ke Betania. Ketika meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Ayat 13 - Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. BIMK menggunakan berdaun lebat. Ayat 14 - Maka kata-Nya ... menggunakan kata katara = speak down, berkata negatif. Ayat 13, ... sebab memang bukan musim buah ara.... Waktu Yesus berkatara, Yesus bukan sedang marah melampiaskan emosinya karena lapar. Latar belakangnya: ketika pohon ara akan berbuah, daunnya sepertinya gundul, yang keluar pertama adalah bakal buah, bukan daun. Sesudah itu daun juga mulai keluar. Kalau daun mulai melebat berarti bakal buahnya sudah cukup banyak. Sehingga ketika Yesus melihat dari jauh pohon ara sudah berdaun lebat, seharusnya sudah berbuah. Ingat, Tuhan tidak pernah mengutuki kemandulan, yang Tuhan benci kemunafikan. Bandingkan Lukas 13, peristiwa pohon ara di tengah pohon anggur. Sudah 3 tahun pemiliknya tidak mendapati buah ara, tapi masih diberi kesempatan dicangkuli dan diberi pupuk oleh penunggu kebun 1 tahun (ayat 8). Pohon ara itu mandul, tidak langsung dikutuki, tapi masih diberi kesempatan. Hubungkan Yesaya 54:1. Kalau hidup kita merasa mandul/kering, terbuka saja pada Tuhan. Markus 11:13, ketika Yesus melihat pohon ara yang berdaun lebat, Dia berharap minimal ada bakal buah, tapi Yesus tidak mendapati apa-apa. Jangan sampai kita kelihatan berdaun lebat, tapi tidak ada sesuatu dari hidup kita.

Kisah ini tidak berdiri sendiri, ada hubungannya dengan Markus 11:15-17. Rupanya ketika Yesus masuk ke Bait Allah, kelihatannya Bait Allah megah berdiri, peribadatannya masih seperti daun-daun segar, tapi di dalamnya sarang penyamun. Kenapa ada pedagang-pedagang di Bait Allah? Bukan soal berjual belinya. Rupanya ada konspirasi. Dalam hukum Taurat, setiap orang yang pergi ke Bait Allah harus mempersembahkan korban. Korban harus sempurna, utuh, tak bercacat, imam harus periksa. Ketika memeriksa korban dan mendapati ada cacat, imam menyuruh untuk menjual korban kepada pedagang di Bait Allah. Orang itu harus ganti dengan binatang terbaik yang dibeli dari pedagang di Bait Allah dengan harga yang lebih mahal. Keuntungannya dibagi antara pedagang dan para imam. Itulah sarang penyamun. Mereka melakukan dalam posisi beribadat. Ketika beribadat pada Tuhan, hati-hati dengan hati. Kadangkala kita berpikir seperti jual beli. Hubungan kita dengan Tuhan bukan seperti jual beli. Tanpa sadar terjebak pada sistem, saya sudah melayani, jadi Tuhan wajib memberkati, menolong saya. Rupanya ini yang dilihat oleh Yesus, kelihatannya bagus, tapi rupanya itu kondisi umat Allah, kondisi para imam yang ada di Bait Allah. Tuhan tidak temukan buah kebenaran di dalamnya. Tuhan tahu kondisi setiap kita, tidak ada yang dapat kita sembunyikan. Markus 11:20-21, keesokan harinya mereka lihat pohon ara kering sampai akar-akarnya. Tuhan bukan mengutuki kemandulannya, bukan. Yang Tuhan benci kemunafikan, yang kelihatannya baik-baik saja, berdaun hijau tapi hanya untuk menutupi sesuatu.

Wahyu 2:11. Ibrani 12:5-6. Kalau kita sepertinya sedang dinasihati, dikoreksi, diperingatkan oleh firman Allah, karena Tuhan sayang pada kita. Yesaya 54:1. Tuhan masih mau memberikan kesempatan pada kita.

Amin.