Berbagi Hidup Dengan Siapa?

. Hits: 11

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 12 Juli 2026 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Apa yang kita makan itu akan mempengaruhi kesehatan kita. Itu yang jasmani. Sadarkah apa yang kita dengar, apa yang kita yakini, itu mempengaruhi. Kita hidup berbagi dengan siapa? Berapa banyak kali kita bisa berkata saya ini orang percaya, tapi kita lebih berbagi dengan dunia ini. Kita lebih ijinkan apa yang dari dunia itu merasuki pikiran kita, menjadi keyakinan kita. Sedangkan kalau dengar firman Allah berkata, “Ah... itu cuma perkataan pendeta.” Ketika firman Allah disampaikan itu adalah isi hati Tuhan. Berbagi hiduplah dengan Tuhan. Bukan berarti tidak boleh dengar berita dunia ini. Boleh dengar berita dari dunia, tapi harus Tuhan yang menjadi pusat penyembahan kita. Harus Tuhan yang menjadi Pribadi dimana kita harus berbagi.

1 Tesalonika 5:17 - Tetaplah berdoa. Bukan berarti dimanapun kita berada “seperti sebuah ritual, tapi biarlah hidup kita ini sebuah doa kepada Tuhan. Hubungkan dengan Lukas 18:1 - Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Mungkin ada di antara kita rasanya sudah bosan berdoa, sepertinya doa belum dijawab-jawab. Kadangkala ada satu perasaan apatis mau dijawab atau tidak terserah. Rasul Paulus menegaskan dalam Roma 12:12 - Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Kita masih di dunia, dan dunia sepertinya tidak memberikan harapan yang tambah baik. Semua yang ada di dalam dunia ini bisa goyah. Apa yang di dalam dunia yang kelihatannya aman, dasar yang teguh, satu kali bisa goyah. Itu sebabnya jangan taruh hidup kita kepada semua yang di dalam dunia. Firman Allah katakan bersukacitalah dalam pengharapan, pengharapan kita kepada Tuhan, firman-Nya yang berkuasa. Memang secara kasat mata kita belum melihat, tapi bersukacitalah. Karena pusat pengharapan kita adalah dasar yang teguh. Sabarlah dalam kesesakan. Kejadian 8 mengingatkan selama bumi masih ada, tidak akan berhenti musim panas, musim menuai. Kesusahan kita tidak akan selama-lamanya, bahagia kita juga tidak kekal kalau hanya kepada perkara yang fana. Apa yang kekal? Firman Tuhan. Itu sebabnya berbagi hiduplah dengan Tuhan lewat firman-Nya. Bertekunlah dalam doa. Ketika kita berdoa, seringkali mengasosiasikan tutup mata, lipat tangan dan berdoa. Konsep berdoa bukan hanya soal kita datang kepada Tuhan di dalam satu posisi tertentu, kemudian kita sampaikan doa kita.

Ketika kita berdoa :

1.       Berbagi hidup dengan Tuhan.

Yang Yesus ajarkan tentang berdoa Matius 6:9,10. Ini bukan hanya sekadar permohonan bahwa Tuhan saya tarik Kerajaan Tuhan, bukan. Tapi waktu kita berdoa, kita sedang berbagi hidup dengan Tuhan dan sedang berkata Tuhan kiranya Kerajaan-Mu hadir dalam fakta kehidupan saya. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu dalam hidupku seperti di sorga. Hubungkan dengan  1 Korintus 10:16. Kata persekutuan menggunakan kata koinonia (= bukan hanya sekadar bersekutu, joint paticipation = bergabung dalam partisipasi, association = mengasosiasikan diri). Ketika berdoa, sebetulnya kita sedang masuk dalam persekutuan berbagi hidup dengan Tuhan yang besar.

Ada saatnya kita memang berdoa dengan pujian penyembahan, tapi ada saatnya ketika kita membutuhkan kita berkata Tuhan tolong saya, sebetulnya kita sedang berbagi hidup. Tuhan yang mau dibagikan hidup kita kepada-Nya, Kerajaan-Nya akan datang, kehendak-Nya akan jadi. Buktinya: Yehezkiel 36:27-28. Ketika engkau terhubung dengan Tuhan dalam doa, Aku hadir, Roh-Ku Kuberikan dalam hidupmu. Ayat 28, kita memang masih dalam dunia yang gelap, yang tidak pasti, tapi Tuhan yang akan menopang kita. Tuhan tetap Allah yang bertanggung jawab bagi kita. Ketika berdoa kita itu bukan hanya sekadar ritual, bukan. Ketika kita memilih berdoa, kita sedang memilih mau berbagi hidup dengan Sang Pencipta langit dan bumi. Biarlah ini merubah paradigma kita, sehingga dimana pun kita berada, berdoa bukan hanya soal di gereja. Itu sebabnya kita perlu berdoa senantiasa, karena kita butuh Tuhan hadir dimana pun kita berada. Yesaya 30:15-17.

2.       Menyembah.

Mazmur 95:6-7. Konsep kita seringkali yang namanya menyembah harus bisa menyanyi. Menyembah bukan sekadar menyanyi. Penyembahan adalah ketika kita terbuka untuk menikmati seluruh keberadaan Tuhan. Menikmati ke-Mahakuasaan Tuhan adalah mengijinkan Tuhan untuk berdaulat mengatur hidup kita. Itulah penyembahan. Daniel 3:17-18, 25, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap menghadapi perapian yang menyala-nyala, tapi hidup mereka menjadi kesaksian ada Allah yang hidup yang menyertai.

Amin.