Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 19 Juli 2026 Oleh Pdt. Bambang Tri Susilo
Amsal 16:32 - Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Penguasaan diri, Septuaginta (LXX) memberikan penjelasan o de kratoon orges (mashal varohe) artinya orang yang dapat menguasai diri, orang yang memiliki kemampuan untuk menguasai amarahnya. Marah terdapat dalam emosi. Orang yang menguasai emosinya itu adalah orang yang dapat menguasai diri. Dalam pemikiran Yunani manusia terdiri dari tubuh sebagai kemasan, jiwa dan pusat spiritual/roh kita yang bisa berhubungan dengan Tuhan. Dalam jiwa terdiri dari pikiran, perasaan (menyangkut emosi), kehendak (menyangkut keinginan-keinginan kita).
Dalam Perjanjian Baru: Galatia 5:23, penguasaan diri menggunakan kata egkrateia ....
dari kata en (= di dalam) dan kratos (kuasa, kemampuan) = eksousia, dunamos. Egkrateia adalah kemampuan yang ada di dalam yang sanggup mengontrol provokasi-provokasi. Kalau dikaitkan dengan Galatia 5:23 adalah bagaimana Roh Kudus itu memberikan kemampuan kepada diri kita yang berdosa ini, yang mudah terprovokasi oleh hal-hal yang menggoda kehidupan kita. Berapa banyak kali kita terprovokasi dengan jiwa--pikiran, emosi, keinginan?
1. Pikiran.
Berpikir terbagi menjadi 2: berpikir dan bernalar. Kita kadang-kadang terbelenggu, terprovokasi dengan pikiran-pikiran kita. Mungkin kita senang memikirkan masa lalu, pikirannya selalu dulu... dulu... dulu, sehingga tidak menyadari hari ini, di sini, saat ini. Kalau anak-anak muda sekarang pikirannya dipaksa untuk menjadi sesuatu yang harus sukses. Akibatnya apa? Menurut pemikir Korea Byung Chul Han, orang yang terlalu dipaksa, pikirannya terus-menerus digunakan tanpa beristirahat akibatnya kelelahan (burnout). Kalau terus-menerus dilakukan akibatnya depresi. Maka dari itu pikiran perlu diatur dalam kehidupan kita. Kalau tidak diatur, tidak dikuasai, pikiran yang menguasai hidup kita, lama-lama kita kena penyakit mental. Penting kita juga menguasai pikiran kita bersama Roh Kudus. Roh Kudus akan memampukan kehidupan kita untuk menguasai pikiran kita. Kita bisa maksimalkan pikiran kita, tapi ada saatnya juga harus istirahat.
2. Emosi.
Pernahkah kita kecewa, gagal? Kalau kecewa terus-menerus ada di dalam hidup kita, disimpan dalam diri, itu akan merusak kehidupan kita--muncul penyakit jasmani. Tuhan berikan kemampuan untuk menguasai emosi kita. Ayub 36:13 - Orang-orang yang fasik hatinya menyimpan kemarahan; mereka tidak berteriak minta tolong, kalau mereka dibelenggu-Nya; Orang yang menyimpan kemarahan itu orang fasik. Ratapan 3:5,6 - Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan. Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. Ini gambaran kesedihan yang sangat mendalam ada dalam emosi seseorang. Boleh sedih, itu manusiawi, tapi harus dikuasai. Jangan tinggal terus-menerus dalam kesedihan.
3. Keinginan.
Kita boleh punya keinginan, cita-cita, tapi jangan sampai keinginan itu membelenggu kita, menjadikan kita bukan lagi tuan atas diri kita. Bersama dengan Roh Tuhan, kita akan mampu menjadi tuan atas diri kita sendiri. Tuhan ingin mengajarkan pada kita kuasailah dirimu. Orang yang tidak menguasai diri Amsal 25:28 memberikan penjelasan seperti kota yang roboh temboknya. Kota di zaman dulu akan aman ketika tembok kelilingnya itu rapat, tidak ada satu celah pun. Orang bisa keluar masuk kota itu hanya melalui pintu gerbang. Tapi ketika temboknya roboh, memungkinkan kota ini mengalami ketidakamanan. Orang yang tinggal di kota itu akan merasa malu dengan kondisi kota yang seperti itu. Hidup kita sebagai anak-anak Tuhan, milikilah penguasaan diri. Jangan hidup di dalam keinginan-keinginan nafsu kita, jangan sampai sesuatu terjadi sehingga kita dipermalukan oleh karena keinginan itu.
Contoh orang yang tidak dapat menguasai diri--menjadi peringatan agar kita tidak melakukan hal yang sama: Kain (Kejadian 4:6-8). Ketika melihat persembahan Habel diterima oleh Tuhan, Kain dalam hatinya iri, kemudian diolah dalam pikiran, emosi terpancing. Kain tidak bisa menguasai diri, akibatnya merancangkan kejahatan membunuh Habel. Haman (Ester 3:5-6), saat Mordekhai tidak mau memberi hormat pada Haman, rasa pahit dalam hati Haman itu merancangkan genosida. Pikirannya tidak dikuasai sehingga merancangkan genosida.
Contoh yang baik yang bisa menguasai diri: Yusuf. Ester (Ester 2:15-17), melalui proses perawatan di istana Ahasyweros, Ester tetap memperhatikan nasihat Mordekhai dan sida-sida. Dia mau menguasai dirinya, tidak sembrono dalam kehidupannya. Akhirnya bisa berdiri di hadapan raja dengan sangat anggun dan menimbulkan belas kasihan raja dan Ester menjadi ratu.
Milikilah penguasaan diri. Tuhan akan buat berhasil perjalanan hidup kita.
Amin.

