Hits: 316

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 9 September 2018 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Wahyu 3:8b “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Datanglah beribadah bukan karena terikat sebuah peraturan, tetapi karena kita sadar kekuatan kita terbatas. Oleh sebab itu berlindung dalam naungan Allah yang Mahatinggi.

Mazmur 91:1 “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa”. Ketika kita taat pada firman Allah, sebenarnya kita ada di bawah naungan sayap Tuhan. Saat kita beribadah, kita datang pada naungan Yang Mahakuasa. Demikian juga dengan Abraham, dimana pun dia tetap mendatangi naungan Tuhan dengan mendirikan mezbah.  Allah melihat kita dalam janji-Nya pada Abraham. Setiap kita mengikut iman Abraham yang disebut bapa orang beriman. Filipi 4:6, Allah tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani kita, tetapi juga dalam segala hal. Kadang kita punya keinginan, nyatakan dalam doa dan ucapan syukur. Berapa kali kita tidak sadar bahwa status kita adalah anak Allah, anak penguasa jagat raya, kita mulai kuatir dalam situasi kita. Kemana pun kita pergi, status anak Allah tetap disandang. Keluaran 2:23 Situasinya Israel dalam perbudakan di tanah Mesir setelah dipanggil Yusuf, tetapi mereka diberi kuasa oleh Allah. Selama umat Israel berada di Mesir, Mesir menjadi pusat peradaban dunia. Tanpa kita sadari, keberadaan kita sedang memberkati tempat yang kita diami.

Hits: 351

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 2 September 2018 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Wahyu 3:8b - Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Firman adalah Allah sendiri, firman pusat dari semua yang ada. Kadang ketika kita jalani kehidupan kita berpikir bahwa firman itu pelengkap. Ijinkan firman tinggal dalam kita dan kita di dalam firman.

Hits: 372

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 26 Agustus 2018 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Yakobus 4:7 “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu!” Kita tidak bisa berkata tunduk kepada Allah, tetapi tidak mau tunduk pada otoritas di atas kita yang telah Tuhan delegasikan baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun pemerintahan. Saat tunduk pada Allah, kita bisa melawan iblis.

1 Samuel 17-17-19, kisah Daud yang disuruh ayahnya untuk mengantarkan bekal untuk kakak-kakaknya di medan perang, hanya menengok, bukan berperang. Daud dengan rendah hati menuruti otoritas Isai ayahnya--yang di atasnya, tanpa meminta upah. Ada penundukan diri. Saat dekat dengan Tuhan, ada kerendahan hati dan penundukan diri, maka Tuhan akan taruh orang itu pada waktu yang tepat, dengan tindakan yang tepat, dengan cara yang tepat, dan hasilnya adalah rencana Allah digenapi.

Hits: 365

<p">Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 19 Agustus 2018 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Indonesia adalah “rumah” kita, ketika kita melihat kondisi “rumah” kita sedang carut-marut, apa yang bisa kita berikan untuk bangsa ini? Tuhan mau pulihkan bangsa kita lewat doa kita, fokuslah pada kasih setia Tuhan.

Daniel 9:1-19.

Kondisi Daniel saat itu sedang terjajah, sebelumnya ia duduk di pemerintahan kerajaan Babel, bahkan ketika Babel ditaklukkan kerajaan Media, ia tetap dipakai di masa pemerintahan raja Media karena ia punya integritas kepada Tuhannya, maka ia punya integritas kepada pimpinannya. Ketika ia perhatikan firman Allah dalam kitab Yeremia, ia berkata itu kesalahan bangsa kami, tujuh puluh tahun akan tergenapi sampai janji Allah memulihkan. Allah selalu ingin bergerak. Kalau kita lewati lembah bayang-bayang maut, itu bukan tujuan akhirnya.

Hits: 493

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 5 Agustus 2018 Oleh Pdt. Andrew M. Assa.

Iblis sering kali menutup pintu supaya kita tidak bisa menangkap pesan Tuhan, dengan cara menunjukkan fakta sehingga kita lebih senang fokus pada kesalahan kita padahal kuasa Allah lebih besar di dalam kita. Zakharia 3:1,2. Iblis senang menuduh kita, karena waktunya tinggal sedikit (Wah. 12:10). Tuhan bertindak kepada Zakharia sementara Zakharia melayani, iblis menuduh dan mendakwa. Bahkan di tengah ibadah, imam Yosua didakwa iblis tapi Tuhan berkata, "Aku sudah mentahirkan engkau."

Zakharia 3:3-8. Sebenarnya imam Yosua sudah mengenakan pakaian imam, tapi karena tuduhan iblis, ia serasa mengenakan pakaian kotor. Tuhan katakan supaya menanggalkan pakaian kotor dan mengenakan pakaian pesta. Yosua sadar ia belum sempurna, setiap imam besar tidak ada yang sempurna. Peraturan Taurat berkata sebelum mempersembahkan korban untuk umat, ia harus mempersembahkan korban untuk dirinya sendiri. Adam dan Hawa usahanya sia-sia ketika menutupi ketelanjangan mereka dengan daun pokok ara, tidak ada kebaikan/kekuatan manusia yang bisa menutupi kesalahannya. Allah bertindak sejak awal zaman, Allah beri mereka pakaian kudus. Kita dilayakkan untuk menerima korban yang kudus dan Tuhan memberi jaminannya (ay. 7). Imam besar Yosua  merupakan suatu lambang. “Sebab, sesungguhnya Aku akan mendatangkan hamba-Ku, yakni Sang Tunas” (ay. 8); Sang Tunas adalah Yesus sendiri (Yer. 23:5). Ini adalah pesan yang sebenarnya ingin digagalkan oleh iblis dengan menutup pintu, lewat tuduhan supaya rencana Allah tidak terjadi, tapi imam besar Yosua tetap meresponi firman Allah, sama seperti orang kusta yang datang pada Yesus dan Yesus menjamah dia (Mat. 8:2,3). Ketika kita menghadap hadirat Tuhan, iblis senang supaya kita tidak fokus pada Yesus. Mulai saat ini fokuslah pada Yesus (Yoh. 3:14).